Mengenal Hepatitis B Kronis

Posted by on October 22, 2013 in Info Hepatitis B | 0 comments

Penyakit hepatitis B Kronis terjadi disebabkan penyakit hepatitis B yang berada dalam tubuh tidak segera diobati. Sehingga penyakit ini menjadi kronik dan menahun. Penanganannya menjadi lebih sulit dan dapat menjadi penyebab penyakit sirosis atau kanker hati.

Mengenal Hepatitis B KronisVirus hepatitis B sendiri tidak secara langsung menyebabkan kerusakkan pada hati. Agaknya, respon imun tubuh pada virus secara bertentangan menyebabkan kerusakan. Jadi, pada suatu infeksi virus hepatitis B, respon imun tubuh pada virus bertanggung jawab untuk kedua-duanya, eliminasi (penghilangan) virus hepatitis B dari tubuh dan kesembuhan dari infeksi. Namun, pada saat yang bersamaan, luka pada sel-sel hati disebabkan oleh respon imun yang sama itu pada virus hepatitis B dalam sel-sel hati.

Oleh karenanya, ada suatu keseimbangan antara efek-efek yang melindungi dan yang merusak dari respon sistim imun pada virus hepatitis B. Bagaimana keseimbangan ini dicapai menentukan hasil akhir pada seorang individu yang terinfeksi dengan virus hepatitis. Makanya, suatu infeksi virus hepatitis B akut dapat menjurus pada kesembuhan (hasil yang umum), pada gagal hati akut (jarang), dan adakalanya pada infeksi kronis. Infeksi kronis dapat berakibat pada suatu keadaan pengidap sehat (healthy carrier, dimana orang yang terpengaruhi mengandung virus namun tetap sehat) atau berlanjut ke sirosis (luka parut yang berat, atau fibrosis dari hati) dan komplikasi-komplikasinya, termasuk kanker hati.

Penularan Hepatitis B

Virus hepatitis B ditularkan melalui paparan darah yang sudah terinfeksi. Virus hepatitis B paling banyak ditemukan pada darah, air mani, darah haid, air susu ibu dan juga air liur. Selain ditempat tersebut virus hepatitis B juga terdapat dalam urin, namun tidak ada pada feces. Oleh karena itu, hepatitis B tidak ditularkan melalui makanan atau minuman. Saat ini virus hepatitis B tidak lagi menular melalui transfusi darah, karena semua darah sudah diperiksa terlebih dahulu untuk menghindari terkontaminasinya darah dari virus hepatitis B kronis.

Di beberapa negara maju seperti Amerika, infeksi hepatitis B paling sering ditularkan melalui kontak seksual. Virus hepatitis B juga ditularkan melalui darah atau cairan tubuh yang tercemar virus dengan cara yang berbeda-beda. Baik melalui jarum suntik para pengguna obat terlarang, jarum tato, menindik tubuh, jarum akupuntur yang tidak steril. Selain itu, virus hepatitis B kronis bisa menular juga melalui alat-alat kebersihan yang digunakan bersama-sama seperti sikat gigi dan alat cukur. Selain itu dilaporkan bahwa beberapa serangga seperti nyamuk dan kutu dapat juga menularkan virus hepatitis B.

Terakhir virus hepatitis B juga dapat ditularkan dari para ibu yang terinfeksi kepada bayi-bayi mereka pada saat melahirkan (yang disebut penularan vertikal). Ini adalah cara penularan yang paling sering di beberapa wilayah dimana endemik virus hepatitis seperti di Asia Tenggara dan Afrika. Angka penularan virus hepatitis B kepada bayi yang baru lahir dari para ibu yang terinfeksi adalah sangat tinggi, hampir mendekati 100%. Melihat itu, seperti diindikasikan lebih awal, hampir semua dari bayi ini akan mengembangkan infeksi virus hepatitis B kronis.

Pencegahan Hepatitis B Kronis Dimulai Sejak Bayi

Pemberian vaksin bagi bayi pada awal masa kehidupannya sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya. Salah satu yang paling penting untuk diberikan adalah vaksinasi hepatitis B kronis. Menurut para ahli menyebutkan bahwa pemberian vaksin hepatitis B kronis bagi bayi menjadi penting karena penularan yang sering terjadi adalah melalui jalan lahir dari ibu yang menderita hepatitis B atau disebut dengan penularan vertikal. Penularan ini lebih membahayakan karena pada saat dewasa nanti si bayi dapat menderita hepatitis B kronis.

Dari pengidap hepatitis B kronis yang ada di masyarakat, sekitar 90 persen di antaranya mengalami infeksi saat masih bayi. Infeksi dari ibu yang mengidap virus hepatitis B bisa terjadi sejak masa persalinan hingga bayi mencapai usia balita. Infeksi sangat mungkin terjadi karena saat melahirkan jalan lahir ibu terluka dan berdarah sehingga mempermudah kontaminasi darah terhadap kulit bayi yang rentan gesekan persalinan. Selain itu, infeksi juga bisa terjadi saat ibu menyusui, dimana luka pada puting ibu menjadi jalan mudah masuknya virus hepatitis B kronis.

Penularan virus hepatitis B pada bayi bukan didapat dari darah bayi yang terhubung kepada ibu melalui plasenta bayi atau dari air susu ibu, tapi bisa terjadi saat persalinan atau juga ketika menyusui karena terjadi kontak antara luka kecil pada puting susu ibu dan mulut bayi. Untuk mencegah penularan ini, setiap bayi diwajibkan mendapat vaksin hepatitis B pada usia 0-7 hari. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan ibu yang berisiko tinggi dengan melakukan vaksinasi saat kehamilan.

Yang perlu ditekankan, untuk ibu hamil yang positif mengidap virus hepatitis B, selain vaksinasi aktif, sang bayi juga wajib mendapatkan imunisasi pasif dengan pemberian serum. Dengan pemberian vaksinasi pasif (imunoglobulin) maka tubuh bayi sudah langsung mempunyai kekebalan terhadap infeksi hepatitis B dari ibunya saat melahirkan.

Pencegahan hepatitis B kronis sejak dini sangatlah penting karena penyakit ini tidak memberikan keluhan dan gejala. Keadaan ini jelas membahayakan karena anak-anak bisa terlihat sehat, padahal di dalam tubuhnya mengandung virus hepatitis B yang akan berjalan progresif menahun dan menjadi kronis ketika mereka dewasa. Bila sudah kronis, baru akan memberikan gejala, antara lain lemah, kurang nafsu makan, mual, muntah, nyeri tulang, kulit badan dan mata kuning, serta perubahan warna urine yang mencolok.Gambar Mengenal Hepatitis B Kronis

Kemampuan individu untuk menghilangkan/mengeliminasi virus hepatitis B dari tubuh dan sembuh dari hepatitis B kronis tergantung dari kekuatan respon imun tubuh pada infeksi. Lebih kuat respon imunnya, lebih besar kemungkinan mengeliminasi virus dan sembuh dari hepatitis B kronis. Lebih kuat respon imun tubuh terhadap virus, penyembuhan terhadap penyakit hepatitis B kronis akan lebih cepat. Di sisi lain, jika respon imunnya lebih rendah maka penyembuhan penyakit hepatitis B menjadi lebih lama. Selain itu, respon imun yang lebih lemah berakibat pada eliminasi/pembersihan virus yang lebih sedikit dan kemungkinan untuk menjadi virus hepatitis b kronis menjadi lebih besar. Tentu saja, kebanyakan bayi dan anak-anak yang memperoleh infeksi virus hepatitis B akut adalah asimptomatik, namun angka mereka mengembangkan virus hepatitis B kronis adalah lebih besar dari 95%.

Kebanyakan orang dewasa yang memiliki penyakit hepatitis B ikterik yang akut dan simptomatik, akan sembuh sepenuhnya dari infeksi dalam dua sampai tiga bulan. Mereka juga akan mengembangkan kekebalan tubuh yaitu perlindungan dari infeksi virus hepatitis B lainnya. Lebih dari itu, individu-individu ini jarang mengembangkan penyakit hepatitis B kronis. Disamping itu, orang dewasa hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak ada gejala selama episode hepatitis B akutnya, jika dibandingkan dengan orang dewasa yang memiliki gejala, kemungkinan lebih kecil menghilangkan infeksinya dan lebih mungkin menjadi hepatitis B kronis.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *